Parallel Universes Theory – Manakah Dunia Kita yang Sesungguhnya?

Manakah Dunia Kita yang Sesungguhnya?

 

Parallel Universes Theory, adalah sebuah teori tentang adanya sebuah dunia paralel yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli fisika. Dunia paralel adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan dunia realita. Di samping kehidupan yang kita kenal dan kita jalani sekarang, ada juga satu atau lebih kehidupan lain yang juga berjalan secara bersamaan dalam dunia paralel.

“Benarkah? Hal yang tidak masuk akal, untuk apa mereka meneliti hal semacam ini? Apakah memang ada bukti dari keberadaan dunia itu? tch! Hanya membuang-buang waktu membaca artikel ini.”, ucapnya.

“Hei Dios, cepatlah turun! Sarapanmu sudah siap.” Teriak ibunya dari ruang makan.

“Ya, aku akan turun sebentar lagi.”, jawabnya.

Dios, seorang siswa kelas 2 SMA yang kesehariannya hanya bermalas-malasan di kamar.

“Hei Dios, lebih baik kau belajar. Bukankah sebentar lagi akan ada ujian tengah semester.”

“Iya iya bu, tapi kurasa aku ada keperluan, jadi aku akan keluar sebentar sekarang.”

“Bilang saja kau ingin pergi ke game centre lagi.”

“Haha.. kurasa ibu mulai memahami kali ini.”

“Anak ini memang tidak pernah berubah, sama seperti ayahnya kurasa.”

“Aku berangkat.”

“Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu larut!”

Kurasa game centre sudah menjadi rumah keduaku, hehe..

“Hei Dios! Tunggu aku!”, ucap Orion.

“Cepatlah!”

“Apakah kau akan ke game centre lagi?”

“Haha.. tentu saja, bukankah kita harus selalu pulang ke rumah.”

“Kau pikir tempat itu rumahmu hah?”

Dios hanya meringis.

“Ya kurasa tempat itu memang telah menjadi rumahmu sekarang.”

“Ah, kau mau pergi kursus?”

“Tidak. aku harus pergi ke toko pamanku untuk membantunya, karena bibi sedang sakit.”

“Ooo.. kalau begitu kurasa aku akan ikut denganmu.”

“Heh? Kenapa kau tiba-tiba ingin ikut?”

“Bukankah akan lebih baik bila aku membantumu dan paman.”

“Itu membuatku ngeri.”

“Haha.. ayolah, kurasa disana akan lebih menarik.”

“Apa kau sudah bosan dengan rumahmu itu?”

“Hahaha…”

 

Mereka pergi menuju toko milik paman Orion.

 

“Baiklah, sampai di sini dulu. Sampai jumpa.” Ucap Dios.

“Ah, Dios. Terima kasih telah membantuku di toko tadi.”

“Aku tidak berniat membantumu, aku hanya ingin membantu paman dan bersenang-senang saja. Haha..”

“Hei apakah kau tak bisa bersikap sedikit lembut padaku! Setidaknya katakan kau senang membantuku!”

“Haha.. baiklah, sampai jumpa Rion.”

“Byee..”

 

“Di ayo ke kantin, aku sudah lapar.” Ajak Rion.

“Kau saja yang pergi, belikan aku roti dan susu ya.” Pinta Dios.

“Eh enak saja, kau harus ikut denganku ke kantin. Kau pikir aku pembantumu kau suruh-suruh!” Jawab Orion kesal.

“Aku…..malas berjalan kesana.”

“Nah, baiklah kalau begitu. Tapi lain kali kau harus mulai membiasakan dirimu dengan lingkungan ini Di.”

Sebenarnya Orion sudah tau alasan Dios tidak ingin pergi ke kantin. Ia sudah terbiasa menyendiri, dia lebih senang asik dengan dunianya sendiri dibandingkan berkumpul dengan teman-teman sekolahnya. Hanya Orion yang dekat dengannya.

Hal ini bermulai sejak kejadian 3 tahun yang lalu saat Dios kehilangan kakek dan neneknya dalam sebuah kecelakan bus. Saat itu Dion dan kakek neneknya baru saja pulang dari penginapan mereka di desa, namun tiba – tiba bus yang mereka tumpangi tak dapat dikendalikan karena rem blong. Kecelakan itu menewaskan hampir semua penumpangnya, termasuk kakek dan nenek Dios. Ketika sadar Dios sudah berada di rumah sakit, dan kabar tentang kematian itu membuatnya sangat shock. Ia hampir tak menyentuh makanannya beberapa hari. Dios mengurung diri di kamarnya, tak berbicara dengan siapapun termasuk orangtuanya. Setelah sebulan berlalu barulah ia mulai berinteraksi kembali dengan keluarganya dan mulai bersekolah kembali. Setelah kejadian itu, hanya Orion, teman masa kecilnya yang ia ajak bicara.

 

Ketika menuju stasiun, Dios dan Orion berjalan melewati sebuah kafe baru di persimpangan jalan dekat stasiun

“Wah kafe baru, weekend besok kita harus kesini Di.” Ajak Rion.

“Ya baiklah, besok pagi jemput aku. Aku malas bangun pagi, jika kau tak membangunkanku maka besar kemungkinan aku tak akan datang.”

“Sudah kuduga.” Keluh Rion.

 

Esok paginya Dios bangun dengan sendirinya, ia melihat jam di mejanya yang telah menunjukkan pukul 9.00. setelah mandi, ia bersiap – siap untuk menemui Rion. Ketika tiba di ruang makan, betapa kagetnya Dios melihat keluarganya sedang makan bersama disana. Yang membuatnya shock adalah kakek dan neneknya yang seharusnya telah tiada ikut makan di meja itu.

“Kenapa? Kenapa kakek dan nenek ada disini?” Teriak Dios.

“Dios, apa yang kau katakan? Tentu saja kita sedang sarapan bersama.” Jawab ibunya.

“Tidak! Tidak! Seharusnya kakek dan nenek tidak berada di sini! Kalian telah meninggal karena kecelakaan 3 tahun lalu.” Dios mulai hilang kendali. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Dios tenanglah. Apa yang sebenarnya kau bicarakan.” Ucap ayahnya menenangkan.

“Tiga tahun lalu, setelah pulang dari desa. Ketika kecelakaan itu kakek dan nenek meninggal. Kenapa sekarang kalian ada disini?” Ucap Dios.

“Hei nak, kita sudah hampir lebih dari 7 tahun tak mengunjungi desa, apa yang kau bicarakan, hahaha.. apa kau baru saja bermimpi buruk?” Ujar kakeknya.

“Tidak! Itu bukan mimpi! Selama 3 tahun ini jelas-jelas kalian tak lagi bersama kami, kenapa sekarang kalia ada disini? Siapa kalian?”

“Plakk!!! Ibunya menampar Dios dengan sangat keras, ia sangat marah dengan perkataan Dios mengenai kakek dan neneknya.

“Dios jaga ucapanmu! Lebih baik kau masuk ke kamarmu, tenangkan pikiranmu. Ibu rasa kau sedang banyak masalah akhir-akhir ini.”

Setelah menerima tamparan itu Dios berlari keluar rumah, ia tak lagi memikirkan apapun, ia terlalu kaget dengan kenyataan ini. Dios tak lagi dapat berpikir jernih, ia terus berlari tanpa tujuan, air matanya terus mengucur.

Ini tak masuk akal! Kenapa kakek dan nenek masih hidup! Aku bukannya tak bahagia melihat mereka, tapi ini sudah diluar akal sehat! Apa yang sebenarnya terjadi?

“Dios! Dios! Kenapa kau berlari!?”, teriak Orion. Dios tak mendengarkan, ia terus berlari. Orion yang khawatir kemudian mengejar Dios kemudian menarik lengannya.

“Hei apa yang kau lakukan! Kau tak mendengarkanku!? Dios apa yang terjadi padamu, kenapa kau menangis?” Ucap Orion.

“Hiks..hiks.. Rion, aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa kakek dan nenek berada disana, bukankah mereka sudah tiada.” Dios terus menangis.

“Apa maksudmu? Tentu saja kakek dan nenekmu masih hidup.”

“Tidak! Kecelakaan itu! Kecelakaan itu membuat mereka meninggal, bukankah itu yang kalian katakan padaku.”

“Kecelakaan apa Rion? Kalian tak pernah mengalami kecelakaan semacam itu. Hei apa kau mengalami mimpi buruk?”

Mendengar jawaban Rion membuat Dios semakin bingung. Pikirannya benar – benar kacau. Dios tak lagi mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ia melihat sekelilingnya berputar, Dios pingsan dan Rion segera membawanya ke rumah sakit.

Ketika sadar Dios segera berlari keluar mencari orangtuanya. Mereka bilang bahwa sepulang dari kafe bersama Rion, Dios terserempet mobil dan kemudian jatuh pingsan. Dios juga menanyakan tentang keberadaan kakek dan neneknya, dan sangat mengejutkan orangtuanya menjawab bahwa kakek dan neneknya telah tiada sejak 3 tahun lalu. Orangtua Dion menganggap bahwa kecelakaan itu membuat Dios lupa tentang kematian kakek neneknya yang membuat Dios mengurung diri setelah itu.

Dengan jawaban tersebut Dios semakin bingung dengan kenyataan yang dihadapinya. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa mereka mengatakan hal yang berbeda. Apa yang ia alami saat itu hanya mimpi? Tapi itu terasa begitu nyata untuk Dios. Ia tak mampu lagi menahan semua pemikiran yang memenuhi kepalanya, lalu Dios kembali jatuh pingsan.

 

“Jadi apakah dunia parallel itu benar ada? Apakah ada alur kehidupan lain yang dijalani oleh diri kita yang lainnya? Lalu jika memang dunia itu ada, dunia manakah yang menjadi dunia sesungguhnya?”

(Ayu P.S.)

 

 

Bagikan postingan ini:

Related posts

Leave a Comment