Lebih Sakit Ditolak Kampus Idaman Daripada Ditolak Gebetan

“Dulu nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama kampusnya.” Kutipan Pidi Baiq sepertinya benar adanya. Perkenalkan namaku Erdita Aulia Syaharani—biasa dipanggil Rani, aku alumnus SMA Negeri Favorit di Kota Semarang. Yang notabene banyak teman menganggap bahwa menjadi mahasiswa di universitas-universitas terkenal lebih hebat dan keren daripada menjadi mahasiswa di universitas yang aku inginkan dari dulu, UNNES.

Sebagai siswa yang menyukai matematika, dan banyak temanku yang mengetahui nilai dan prestasi ku sejak duduk di kelas sepuluh, banyak yang menganggap aku sebagai guru privat mereka, sebenarnya itulah yang menimbulkan keinginanku menjadi guru—menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarku sendiri. Ketika guru menjelaskan di depan, hampir semua siswa yang tidak paham, tidak berani untuk menanyakan kembali materi yang belum dia paham, bisa dikarenakan karena guru tersebut dianggap galak atau karena siswa malas untuk mencari tau apakah sebenarnya dia sudah paham ataukah belum.

Awalnya aku ingin berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, di Bandung. Karena sebagai penggantian dari cita-cita awal ku yang ingin berkuliah di ITB, Bandung—di ITB tidak ada program studi pendidikan, yang ada adalah program studi matematika murni. Tapi, mama tidak mengijinkan aku untuk kuliah di luar kota Semarang, jadi aku memilih  Unnes sebagai tujuan kuliah ku.

“Ah, gampang lah, bisa-bisa Unnes doang kok”

Anggapan ini yang membuat aku sombong, dan menjadi awal ditolaknya diriku sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Semarang, aku menganggap bahwa menjadi mahasiswa Unnes adalah hal yang mudah, karena Unnes tidak terlalu terkenal bila dibandingkan Undip atau UGM.

“Lho kok ga Undip atau UGM aja kenapa?”

                Kenapa? Karena disana tidak ada program studi pendidikan dan mamaku tidak memberi ijin untuk berkuliah di luar Kota Semarang.

Kok Unnes sih, padahal kamu pinter lho”

                Nah ini, pernyataan yang sangat aku benci. Unnes adalah universitas yang tujuan utamanya adalah menghasilkan calon tenaga pendidik yang terdidik dan terpelajar, dan akhirnya tujuan guru adalah membuat pintar generasi mendatang. Tidak mungkin bila mahasiswa Unnes adalah orang-orang yang tidak pintar, pastinya orang-orang yang pintar dan akan membuat pintar generasi mendatang.

Anggapan orang-orang bahwa masuk Unnes adalah hal yang mudah membuat ku percaya diri dan hanya memilih Unnes sebagai pilihan dengan Pendidikan Matematika adalah program studi satu-satunya yang aku pilih di SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), rasa percaya diri untuk lolos SNMPTN Unnes pun semakin menggebu-gebu hingga hari pengumuman pun tiba. Seperti gelas indah yang jatuh dari lantai Sembilan pun sama seperti ku, rasanya dunia gelap seketika, tak ada yang bisa terucap dari bibirku, bibirku kelu, kakiku lemas, rasanya ingin kubantingkan diriku ke Kasur tua milikku.

“Maaf, anda tidak lolos di SNMPTN” tulisan itu sampai sekarang masih terngiang di pikiranku. Masih membayangkan bagaimana kemarin aku berbangga diri bahwa aku akan menerima tulisan, “selamat, anda lolos SNMPTN di Universitas Negeri Semarang, program studi Pendidikan Matematika.”, mataku yang lembab sebagai bukti bahwa pada saat itu aku belum mampu untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan awalku, bahwa masuk Unnes itu mudah.

Tapi aku harus bangkit, aku tidak boleh terus-terusan merenungkan kenyataan pahit ini, tapi rasa sakit ini masih membekas. Apakah aku sebodoh ini? Temanku yang notabene adalah murid yang biasa-biasa saja, bahkan ketika di kelas dia hanya bermimpi di pojok ruang kelas  bisa lolos SNMPTN ITB! Wow, aku tak tahu harus senang atau sedih, yang ada dipikiranku hanyalah, bagaimana kuliahku besok? Aku kuliah dimana? Apakah aku tidak berjodoh dengan Unnes? Atau bagaimana? Pikiranku buyar tidak terkendali.

Yang aku lakukan hanyalah belajar di rumah dan mondar-mandir ke bimbel terkenal di Semarang untuk persiapan SBMPTN sambil diselingi lamunan maya tentang kenyataan pahitku kemarin, hingga hari pendaftaran SBMPTN pun tiba. Rasa penasaran dengan Unnes Pendidikan Matematika  tetap nyata di pikiranku dan aku ingin mencoba Unnes Matematika di pilihan kedua. Dan aku berkonsultasi ke guru wali ku, guru di bimbel, orang tua, pakde, bude, hingga orang-orang yang aku temui di jalanan—di jalanan dalam sekolah maksudnya.

Aku semakin mantap untuk memilih dua program studi yang ada di Unnes tersebut, dan dengan didorong oleh guru-guru yang percaya dengan kemampuanku, mereka memberiku semangat dan doa—berharap agar lolos di jalur yang menurutku terakhir ini. Ujian pun dilaksanakan, tidak ada rasa gugup di hati dan terkesan perasaan seperti kemarin melanda diriku—terlalu percaya diri. Terlalu percaya diri memang hal yang sebaiknya dihindari, dan  benar karena aku terlalu percaya diri, aku tidak mendapati hal yang baik ketika aku membuka pengumuman SBMPTN, dan mendapati “maaf, anda tidak lolos di SBMPTN”. Hatiku kali ini remuk, seremuk-remuknya hati. Rasanya aku bodoh sekali ditolak Unnes sebanyak 2 kali. Aku masih tidak percaya, aku mulai mengecek koran hingga web, apakah benar namaku tidak ada di salah satu nama mahasiswa baru Unnes jalur SBMPTN. Dan benar, namaku tidak ada.

Aku bimbang, bagaimana masa depanku kelak, kenapa aku terlalu bodoh untuk bersaing merebutkan  satu bangku di Pendidikan Matematika, Unnes. Badanku tambah lemas, ketika hampir semua temanku lolos di SBMPTN di tempat kuliah yang mereka inginkan. Aku langsung mengecek web Unnes dan Undip untuk mengikuti jalur terakhir yaitu jalur Mandiri, jalur dimana didalamnya terdapat SPI yang tidak sedikit.

Dengan langkah yang masih lemas, aku mencoba ke sekolahku untuk berkonsultasi, dan aku disuruh untuk mengikuti jalur yang terakhir masuk perkuliahan. Hingga waktu ujian tiba, aku tidak berharap apa-apa, tidak seperti perasaan yang aku rasakan ketika ujian SBMPTN dan menunggu pengumuman SNMPTN. Aku pasrah terhadap kehendak Allah, aku hanya bisa memohon maaf pada Allah atas kesombongan yang aku perbuat.

Aku memilih Sastra Jepang dan Ekonomi Islam di jalur mandiri Undip yang artinya aku harus belajar kilat tentang SBMPTN soshum. Aku masih penasaran dengan Pendidikan Matematika Unnes jadi aku tetap memilihnya di pilihan pertama dilanjutkan Pendidikan Bahasa Jepang dan Akuntansi di jalur mandiri Unnes yang artinya aku mengikuti IPC (gabungan antara soshum dan saintek). Hariku ku selingi dengan kekhawatiran dan kecemburuan terhadap temanku yang sudah mendapat kuliah, aku menahan nafsu untuk jalan-jalan, bersenang-senang, aku terus berdoa semoga di beri yang terbaik oleh Allah hingga pengumuman tiba.

Pengumuman Undip yang aku buka terlebih dahulu, dan ternyata aku LOLOS di Sastra Jepang dengan SPI dan UKT yang masih bisa dibilang standar murah. Dan hari berikutnya aku membuka pengumuman Unnes, dan ternyata aku LOLOS SEBAGAI CADANGAN. Rasa tercampur aduk antara bimbang dan takut, di satu sisi aku masih ingin berkuliah di Unnes, di satu sisi lain Undip sudah membuka jalan lebar diriku untuk menjadi bagian darinya. Hingga hari wawancara Unnes pun tiba, aku mendapati bahwa bila aku ingin diterima aku harus membayar SPI dan UKT yang tidak sedikit, bila dibandingkan dengan Undip aku harus membayarnya 3 kali lipat lebih mahal. Dengan begitu, aku ingin cepat-cepat membahagiakan mamaku dan berterimakasih atas apa yang mama berikan padaku baik moral dan materil.

Aku merasa bangga, senang, dan puas telah menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Semarang hingga aku bisa mengikuti acara gravika 2017 ini dan berjanji akan mengharumkan nama baik Unnes serta membanggakan mama dengan prestasi akademik dan prestasi non akademik. Dan, membuktikan bahwa Erdita Aulia Syaharani masuk Unnes melalui jalur yang dianggap “halah masuk karena bayar mahal” akan lulus cumlaude tepat waktu dan menjadi mahasiswa berprestasi.

Erdita Aulia Syaharani seorang mahasiswa Pendidikan Matematika 2017 dari Kelompok Polinom

Bagikan postingan ini:

Related posts

Leave a Comment